Faham Syah Berikan Kuliah Umum Di UIN FAS Bengkulu tentang Peran Pemilih Muda dalam Mewujudkan Pemilu Berintegritas
|
Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Peran Pemilih Muda dalam Mewujudkan Pemilu Berintegritas melalui Pengawasan Partisipatif.” Kegiatan ini menjadi ruang akademik dan edukatif bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi serta mengawal seluruh tahapan pemilihan umum secara kritis, konstruktif, dan bertanggung jawab.
Dalam kegiatan tersebut, Faham Syah bertindak sebagai narasumber utama. Ia menyampaikan materi mengenai pentingnya peran pemilih muda dalam membangun budaya demokrasi yang sehat dan berintegritas. Menurutnya, pemilih muda tidak hanya berperan sebagai pemberi hak suara dalam pemilu, tetapi juga merupakan aktor strategis dalam mengawal proses demokrasi agar berlangsung secara jujur, adil, transparan, dan berintegritas.
“Pemilih muda memiliki peran strategis dalam menentukan arah demokrasi. Mereka tidak boleh hanya menjadi objek dalam setiap kontestasi politik, tetapi harus tampil sebagai subjek yang kritis, cerdas, dan berintegritas,” ujar Faham dalam pemaparannya.
Pengawasan Partisipatif
Faham Syah menjelaskan bahwa pengawasan pemilu tidak hanya menjadi tanggung jawab Bawaslu dan jajaran pengawas pada setiap tingkatan. Pengawasan pemilu merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan partisipasi masyarakat, khususnya pemilih muda yang memiliki akses luas terhadap informasi dan teknologi digital.
Pengawasan partisipatif dapat dilakukan melalui berbagai bentuk. Mahasiswa dapat ikut memantau tahapan pemilu, mengidentifikasi potensi pelanggaran, melawan penyebaran hoaks dan politik uang, serta menyampaikan laporan berdasarkan data dan fakta. Selain itu, mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen literasi demokrasi di tengah masyarakat.
“Pengawasan partisipatif bukan berarti masyarakat mengambil alih kewenangan Bawaslu. Partisipasi masyarakat dilakukan dengan memberikan informasi, mengawasi proses, meningkatkan kesadaran publik, dan memastikan pemilu berjalan sesuai dengan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama di ruang digital. Perkembangan teknologi informasi telah memberikan peluang besar bagi penguatan demokrasi, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi, ujaran kebencian, propaganda politik, dan manipulasi informasi.
Perspektif Penyelenggaraan Pemilu
Selain Faham Syah, kegiatan ini juga menghadirkan Sarjan, sebagai pemateri dari KPU Provinsi Bengkulu. Kehadiran Sarjan memberikan perspektif tambahan mengenai penyelenggaraan pemilu, khususnya terkait pentingnya pemahaman masyarakat terhadap tahapan, prosedur, serta hak dan kewajiban pemilih dalam pemilu.
Dengan menghadirkan narasumber dari Bawaslu dan KPU Provinsi Bengkulu, kuliah umum ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada mahasiswa. Bawaslu menyampaikan perspektif pengawasan dan pencegahan pelanggaran, sedangkan KPU menjelaskan aspek teknis penyelenggaraan pemilu serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Subhan sebagai moderator, Subhan memandu jalannya diskusi agar berlangsung secara sistematis, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Forum juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan serta mendiskusikan berbagai persoalan aktual dalam penyelenggaraan dan pengawasan pemilu.
Mahasiswa sebagai Penjaga Demokrasi
Dalam konteks kehidupan demokrasi, mahasiswa memiliki posisi penting karena dikenal sebagai kelompok intelektual yang memiliki daya kritis, independensi, dan kepedulian terhadap persoalan kebangsaan. Oleh sebab itu, mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran sebagai penjaga nilai-nilai demokrasi yang berlandaskan etika, hukum, dan tanggung jawab sosial.
Faham mendorong mahasiswa UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu untuk membangun budaya politik yang sehat dengan mengedepankan rasionalitas, etika, dan penghormatan terhadap perbedaan pilihan. Perbedaan politik, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persaudaraan, terutama di tengah masyarakat yang plural.
“Demokrasi tidak hanya berbicara tentang menang atau kalah dalam pemilu. Demokrasi juga menyangkut bagaimana seluruh proses politik dijalankan secara jujur, adil, transparan, dan bermartabat,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa integritas pemilu harus dibangun melalui sinergi antara penyelenggara pemilu, peserta pemilu, pemilih, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, media, dan seluruh elemen bangsa. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan politik, dan pembentukan karakter warga negara.
Memperkuat Literasi Demokrasi
Kuliah umum tersebut juga menegaskan pentingnya penguatan literasi demokrasi di kalangan mahasiswa. Literasi demokrasi tidak sebatas pengetahuan mengenai prosedur pemilu, tetapi mencakup kemampuan memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, menilai informasi secara kritis, menghormati hukum, serta berpartisipasi dalam proses politik secara bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pelopor pengawasan partisipatif yang berkontribusi terhadap terciptanya pemilu yang demokratis, transparan, dan berintegritas. Mahasiswa juga diharapkan dapat menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi kepada masyarakat melalui kegiatan akademik, organisasi kemahasiswaan, media sosial, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Kuliah umum berlangsung dalam suasana akademik yang interaktif. Antusiasme ribuan mahasiswa terlihat dari perhatian dan partisipasi mereka selama kegiatan berlangsung. Forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan kelembagaan antara Bawaslu Provinsi Bengkulu, KPU Provinsi Bengkulu, dan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam membangun kesadaran politik serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu.
Melalui keterlibatan aktif pemilih muda, pemilu diharapkan tidak hanya menghasilkant pemimpin melalui prosedur demokratis, tetapi juga mampu menghadirkan proses politik yang jujur, adil, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Tim Humas Bawaslu Provinsi Bengkulu