"Rajut Sinergi, Bawaslu dan Fatayat NU Bengkulu Bersatu Kawal Kualitas Demokrasi"
|
Dipimpin langsung oleh Ketua Bawaslu Provinsi Bengkulu, Faham Syah, pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk memastikan api demokrasi tetap menyala, meski pesta demokrasi elektoral telah usai.
Faham Syah menegaskan bahwa peran organisasi masyarakat seperti Fatayat NU sangat krusial sebagai mitra strategis Bawaslu. Baginya, demokrasi bukan hanya soal hari pemungutan suara, melainkan tentang kerja berkelanjutan.
"Pasca-Pemilu, tugas Bawaslu justru semakin menantang. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Konsolidasi dengan organisasi masyarakat seperti Fatayat NU adalah kunci untuk menjaga kualitas demokrasi dan memperluas jangkauan pengawasan partisipatif hingga ke pelosok," ujar Faham Syah.
Gayung bersambut, Ketua PW Fatayat NU Provinsi Bengkulu, Fatrica Syafri, membawa visi baru dalam masa khidmat 2026–2031. Ia berkomitmen penuh untuk menggerakkan mesin organisasi guna memberikan pendidikan politik yang substantif bagi perempuan hingga ke tingkat akar rumput.
"Fatayat NU siap menjadi garda terdepan dalam penguatan demokrasi. Kami tidak hanya ingin hadir sebagai pelengkap, tapi sebagai agen perubahan yang aktif melakukan pendidikan politik dan pemberdayaan perempuan di bidang kepemiluan," tegas Fatrica.
Dalam pertemuan hangat tersebut, Fatrica Syafri mengusulkan langkah strategis berupa penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU). Usulan ini mencakup kolaborasi komprehensif dalam beberapa sektor:
1. Pendidikan Politik Inklusif: Literasi bagi pemilih perempuan.
2. Pengawasan Partisipatif: Memantau setiap tahapan demokrasi secara objektif.
3. Kajian Kepemiluan: Melahirkan gagasan dan riset terkait isu demokrasi terkini.
4. Penguatan Kapasitas Kader: Mencetak perempuan-perempuan tangguh yang melek politik.
Menyambut rencana tersebut, Faham Syah memberikan lampu hijau. Ia menekankan bahwa MoU nantinya tidak boleh sekadar menjadi dokumen formalitas, melainkan harus diterjemahkan ke dalam program kerja nyata yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Keduanya sepakat bahwa peningkatan keterwakilan perempuan dalam kancah politik menjadi agenda prioritas. Dengan bersatunya kekuatan Bawaslu dan Fatayat NU, diharapkan tercipta ekosistem demokrasi yang lebih inklusif, berintegritas, dan berkualitas di Bumi Rafflesia.
Sinergi ini menjadi angin segar bagi upaya mewujudkan masyarakat yang sadar politik dan berdaya dalam menjaga kedaulatan suaranya.
Tim Humas Bawaslu Provinsi Bengkulu